WhatsApp Group Penuh dengan Spam
October 28, 2024
disclimer: Blog ini bersifat subjektif. Jika ada ungkapan atau kalimat yang sama itu karena ketidak tahuan saya. Saya seorang Informatic engineer dan analisis pada tulisan ini berdasarkan personal eksperience yang tidak jauh dari cakupan bidang saya. Definisi yang ada dalam tulisan ini merupakan definisi pribadi dan lemah jika dijadikan referensi.
Saya tidak bagitu tahu untuk group WA yang diikuti pengguna lain, tetapi grup WA yang saya ikuti penuh dengan spam. Spam yang saya maksud merupakan pesan yang dikirimkan oleh lebih dari satu pengikut grup yang terasa berulang, monoton, dan tentunya tidak diinginkan. Kondisi ini biasanya terjadi ketika seseorang membagikan informasi—sebut saja proses request—yang penting, urgent, dan informatif entah terkait event, jadwal perkuliahan, lowongan pekerjaan, dan lainnya. Saya sendiri tidak begitu mempermasalahkan informasi yang dikirimkan ke dalam grup entah itu sifatnya personal, penting atau tidak penting (asalkan unik), tetapi tanggapan setelahnya—sebut saja proses response—yang menjadi topik tulisan ini. Pengguna grup yang saya ikuti cenderung aktif menanggapi pesan informatif yang dikirimkan pengguna lain, masalahnya adalah kecenderungan ini tidak dibarengi dengan respons yang informatif juga yang saya sendiri lebih suka menyebutnya spam ketimbang pesan.
sebelum pembahasan lebih jauh, secara singkat saya akan mendefinisikan mengapa pesan berbeda dengan spam:
Pesan adalah informasi yang sifatnya informatif serta penting yang diinginkan penerima, sedangkan spam kebalikannya merupakan informasi yang non-informatif yang tidak diinginkan penerima.
walaupun spam juga merupakan pesan tetapi kata kunci yang membedakannya adalah seberapa penting informasi yang dimuatnya. Tolak ukurnya tergantung Anda sebagai penerima pesan. Karena tolak ukurnya diikatkan pada pandangan penerima, tulisan ini sejak awal tidak memaksakan kesamaan sudut pandang pembaca dengan saya sebagai penulis. Saya hanya ingin me-notice sebuah informasi yang tampak sepele tetapi penting bagi saya sebagai end user yang tidak hanya mencari keindahan interface sebuah aplikasi, juga experience yang ditawarkan memudahkan saya. Ok, mari kita lanjut...
Kapan pesan terasa atau sebagai spam dalam grup WA atau grup perpesanan lain?
Ketika saya menulis blog ini, saya sedang dipenghujung akhir tahun 2024 dan sedang mengerjakan skripsi tugas Akhir untuk jurusan Teknik Informatika. Saya mengikuti grup WA untuk tugas akhir dan baru menyadari sesuatu yang benar-benar mengganggu rutinitas digital saya selama ini. Dalam software perpesanan (instant messenger), "semua tulisan adalah pesan" adalah paradigma yang ditanamkan oleh semua software perpesanan instan yang juga membedakannya dengan email. ini mengingatkan pada perkataan ayah teman saya, kelahiran 50-an, seingat saya dia mengatakan kalimat yang sebanding dengan "pesan yang dikirimkan lewat smartphone kalian mungkin akan menyibukkan postman 40 tahun yang lalu". Analoginya agaknya tidak salah, instant messaging merupakan komunikasi tertulis, membutuhkan bandwith untuk mengirimkan pesan, pesan dikirimkan dari jarak yang jauh yang mirip dengan kriteria surat menyurat. Untuk saat ini kita akan menerima satu kebijaksanaan ini, tetapi bagi saya instant messaging lebih mirip dengan percakapan sehari-hari dibandingkan surat menyurat. Kita akan membahasnya ditulisan yang akan datang.
"semua tulisan adalah pesan" maksudnya apapun yang kamu tuliskan entah itu emoji, "p" a.k.a ping, bahkan titik "." akan dianggap sebagai pesan. Saya salah satu segelintir orang (mungkin) yang percaya pesan tidak harus ditulis dalam kalimat. Saya akan menganggap huruf "p" akan memiliki makna "apakah kamu di situ?". Tentunya ini tergantung konteksnya. "instant messaging" memiliki karakteristik penulisan yang spontant, terpisah-pisah, sekuensial dan tidak ditulis dalam satu kalimat utuh. Sifat komunikasi seperti ini mengubah kebiasaan pengguna untuk tidak terlalu memperhatikan proses evaluasi dari apa yang mereka tulis, kita dapat menambahkan apapun setelahnya jika informasi yang diberikan sebelumnya membingungkan. hilangnya evaluasi informasi ini membuat sebagian besar komunikasi, khususnya dalam grup percakapan, kebanyakan tidak memiliki makna yang membuat sebagian orang terganggu. Ini dapat membuat pesan yang diterima seharusnya hanya menampilkan bagian yang informatif akan tenggelam dengan tanggapan yang tidak bermakna.
Tanggapan atau respons kosong seperti yang saya katakan di paragraf sebelumnya "respons yang tidak seinformatif pesan yang disampaikan" merupakan jenis pesan yang monoton, singkat dan seharusnya pesan pertama dapat mewakili pesan-pesan setelahnya yang seharusnya tidak perlu dilemparkan kedalam percakapan grup. contohnya, member grup yang mengirimkan pesan greeting seperti "terima kasih kak", "terima kasih pak/bu" atau respons lain seperti "baik kak", "baik bu" yang sejenisnya secara berulang ulang. Wajar untuk menjawab respons tetapi bagaimana jika kalimat seperti ini menjadi bahasa template setiap kali merespons informasi yang informatif yang dituliskan puluhan bahkan ratusan orang? ini adalah saat pesan tidak jauh berbeda dengan spam. Notifikasi yang menumpuk dan informasi yang tenggelam di dalamnya.
Berikut merupakan tingkatan respons monoton dilihat dari urutannya, saya akan memasukkannya dalam definisi general yang artinya pesan ini tidak dibatasi bentuk kalimat seperti greeting tetapi bisa jadi ini adalah pesan urgent yang sifatnya memperingatkan:
- Respons pertama, sifatnya perlu untuk memberikan feedback bagi pemberi informasi bahwa pesan yang diberikannya tersampaikan;
- Respons kedua, sifatnya peringatan atau pesan yang disampaikannya penting;
- Respons ketiga, sifatnya larangan atau peringatan yang lebih tinggi yang seharusnya benar-benar diindahkan;
- Respons keempat dan seterusnya, hanya berupa spam karena informasi hanya disampaikan pada pesan-pesan sebelumnya.
Kriteria pesan monoton di atas biasanya hanya akan disampaikan oleh person/entitas tunggal dan bukan people. Dan jika pesan monoton disampaikan oleh orang yang berlainan maka urgensinya akan sampai pada tahap kedua tiga dan seterusnya hanya dianggap sebagai spam.
Sebenarnya solusi untuk mengatasi pesan monoton seperti ini telah ada dalam fitur WA tetapi tidak dimanfaatkan secara maksimal. Fitur respon emoji pada bubble message merupakan yang paling dekat dengan solusi masifnya pesan monoton.
kenapa fitur ini jarang dipakai?
menurut saya cara seperti ini kurang formal apalagi jika dipakai dalam grup chat yang berisikan orang-orang institusi, lembaga, atau grup kantoran yang formalitas menjadi keharusan. Fitur alternatif lain untuk menyelesaikan masalah formalitas ini terdapat pada fitur thread Discord. Fitur ini menawarkan blok chat alternatif/sub-blok pada channel grup discord yang digunakan untuk menyampaikan informasi dan dapat hilang jika intensitas responden mulai berkurang. Ini bisa menjadi solusi terbaik untuk mengatasi pesan spam seperti yang sudah saya definisikan di atas.
kesimpuan yang dapat saya sampaikan, sebagai pengguna adalah untuk lebih memperhatikan apa yang dituliskan dan seberapa urgensinya bagi grup agar pesan tersebut tidak menjadi spam bagi pengguna lain yang ingin mendapatkan manfaat dari grup tersebut. instant messenger tidak memiliki fitur validasi pesan seperti email tetapi menawarkan percakapan real-time, jadi sebisa mungkin memanfaatkan fitur yang tersedia sebaik mungkin dan ciptakan lingkungan grup yang tidak hanya sehat tetapi bersih dari spam.
Mungkin sekian yang dapat saya sampaikan. pull requests untuk mengirimkan kritik dan saran ke github triilman25 atau email saya dengan klik email badge di bawah. Jangan spam saya. Terima kasih telah membaca.
#lazyblog#chat#UX
| 🌳My Link Tree | If this blog interesting, give me stars | 📧MY EMAIL |
|---|
